Mencari Ujung Jarum Kebenaran di Tumpukan Jerami Dunia Maya

Tentu tidak sehat bila terlalu sering mendapati informasi yang seharusnya mencerahkan malah membuat kita menemui wilayah berkabut baru. Terlebih jika pada akhirnya persepsi kita terperangkap dalam subyektifitas yang dibangun dari rumor dan pemiguraan kebenaran sepihak. Pada dunia maya kita kunjungi hampir setiap hari, sudahkah kita berperan aktif dalam mengendarai alir arusnya? Atau sekadar merebahkan diri dalam gelembung dan berserah pada kebanyakan orang?

Awal tahun 2018, American Dialect Society, organisasi yang berisi beberapa ahli bahasa independen di Amerika, menetapkan ‘fake-news’ sebagai Word of The Year 2017. Organisasi tertua yang menginisiasi Word of The Year dalam bahasa Inggris tersebut menilai Fake-news sebagai kata (dan atau frasa) publik mewakili pengertiannya yakni bahasan terkait sebuah berita tidak benar yang diasumsikan benar. Istilah ini hangat didiskusikan sepanjang tahun hingga kerap menjadi headline di berbagai media. Padan kata fake-news diantaranya: disinformation, propaganda, dan Hoax (yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi: hoaks).

Istilah Hoaks juga mulai diakrabi, terutama penggunaannya di media sosial untuk merujuk pada berita atau konten yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Bagi generasi yang ramah gawai, media sosial bisa jadi sarana penggalian informasi terdekat dan tercepat aksesnya. Meski era media non-elektronik seperti koran, majalah, tabloid, dan semacamnya belum benar-benar ditinggalkan,  peran internet –khususnya media sosial- sebagai penyedia referensi kini lebih sering dimanfaatkan.

Media sosial tentu tidak menyediakan kelaikan data dan berita sebagaimana yang disajikan oleh media cetak. Informasi yang beredar di dunia maya tidak semua melalui proses penggalian jurnalistik atau saintifik. Oleh karena itu, dunia maya berpotensi menjadi ladang subur perkembangan berita hoaks. Batas antara fakta dan fiksi sangat tipis, sehingga kehati-hatian dalam memilah informasi.

Sebaran hoaks tidak diimbangi dengan kecepatan klarifikasi sebuah pemberitaan. Ini adalah masalah kita hadapi di dunia komunikasi digital yang tanpa batas ruang-waktu. Kemungkinan terburuk dari hoaks bisa jadi konflik horizontal berkepanjangan, karena sebaran rumor seringkali lebih lekat di kepala daripada kebenaran itu sediri. Inilah Post-Truth era, di mana kebenaran tidak penting, namun lebih kepada bagaimana pembuat berita mampu melibatkan pembaca pada situasi emosional melalui fakta-fakta fiktif.

Hoaks memang meresahkan. Terlebih bagi para pengguna internet yang tiap hari berselancar di dunia maya untuk membaharui informasi. Saat ini, media sosial justru lebih dipilih sebagai pintu masuk bagi pembaca berita online dibandingkan mengakses ke situs portal beritanya secara langsung. Ini pula yang memungkinkan banyak click-bait headline sering ditemui di media sosial. Kadang isi berita tidak sesuai judul, atau hanya berupa opini yang belum ter-klarifikasi. Di Twitter misalnya, sebagian besar pengguna yang mendapati hoaks bahkan langsung merespon tanpa membaca konten, menyebarkan ke kanal lain sehingga raihan beritanya bisa berlipat-lapis ke mana-mana.

Laporan bertajuk The Spread of True and False News Online menghasilkan temuan bahwa berita fakta di Twitter memerlukan waktu 6 kali lebih lama untuk mencapai 1500 sebaran daripada hoaks dan 20 kali lebih lama untuk di-retweet. Hal lain yang mengkhawatirkan adalah bahwa penyebaran berita hoaks oleh akun asli sama cepatnya dengan akun bot. Konten hoaks bahkan 70% lebih menarik perhatian untuk di-retweet dibandingkan berita fakta.

Fenomena kekisruhan informasi di media sosial ini bukan tanpa tanggapan dari para ‘pejuang kebenaran’. Mereka adalah yang tengah serius menggarap automated fact-checking tools hingga regulasi digital untuk meminimalisasi berita-berita liar. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, juga Google menaruh perhatian pada pengguna atau konten yang dinilai melanggar etika digital. Melalui penambahan fitur filtrasi konten, pelaporan pengguna, hingga deteksi dini konten meresahkan. Hal tersebut dilakukan untuk membersihkan ruang informasi publik dari berita bohong dan ketidak-jelasan informasi yang melahirkan rumor-rumor baru. Tentu ini adalah bagian dari ‘ikhtiar’ teknologi memerangi penyakit zaman modern.

Dari sekian banyak resep pencegahan oleh pegiat teknologi informasi dalam menanggulangi penyebaran hoaks, pada akhirnya kecerdasan buatan tidak mampu ‘menggurui’ manusia yang terlanjur menolak kebenaran. Beberapa justru tidak ingin mengetahui kebenaran meski telah ditunjukkan oleh mesin fact-checking bahwa beritanya tidak berdasar fakta.

Internet dan media sosial memungkinkan kita tidak berjarak dengan penggalian pengetahuan. Untuk menjernihkan kabut-kabut informasi, pengguna internet harus mulai membiasakan diri untuk aktif sebagai fact-checker. Setiap berita yang kita baca perlu melalui pengolahan sebelum dicerna. Membiasakan budaya mempertanyakan segala sesuatu dan mulai mencari tahu.

Secanggih apapun temuan teknologi, tetap diperlukan peran manusia untuk memantau keseimbangan ekosistemnya. Meski sulit, bak mencari jarum di tengah tumpukan jerami, namun mendekati presisi kebenaran adalah ranah manusia; sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, sebab dibekali intuisi dan potensi intelektual untuk tetap jernih memilih-memilah informasi, dan mempreservasi pengetahuan dengan baik untuk diturunkan ke generasi-generasi selanjutnya.

[Ratu]

View All