Infobesitas; ketika terlalu banyak informasi untuk dicerna

Suatu saat, seseorang membutuhkan sebuah barang dan berselancar ke online marketplace melalui aplikasi di gawainya. Setelah mengetikkan kata kunci barang yang diperlukannya, aplikasi kemudian menunjukkan daftar dari barang yang diperlukannya. Banyak yang ditampilkan aplikasinya, dengan harga, gambar, penjual, maupun data lain yang menyertainya, termasuk rating dan sebagainya. Tidak terlupa pula sisipan iklan yang otomatis muncul. Tak terasa, hampir 6 jam lebih ia menelusuri aplikasi tersebut. Dan belum memutuskan apa-apa, apalagi membelinya.

Di lain waktu, ia berencana pergi rekreasi bersama keluarganya ke luar kota sekitar sebulan ke depan. Sama dengan sebelumnya, melalui aplikasi ia menelusuri informasi mengenai tempat rekreasi, penginapan terdekat, sarana transportasi dan berbagai hal lainnya yang dirasa perlu. Tanpa terasa, sudah hampir 6 hari ia menelusuri seluruh informasi tersebut. Dan belum memutuskan apapun, apalagi memesan penginapan maupun kendaraan.

Ke’belum-ada’an keputusan yang diambil bukannya disebabkan kurangnya informasi untuk membantu mengambil keputusan, melainkan sebaliknya: terlalu banyak informasi yang ada.

Apakah Anda pernah mengalaminya?

Jika iya, berarti Anda salah satu dari mereka yang mengalami efek samping dari apa yang dikenal dengan infobesitas (infobesity) atau keberlebihan informasi (information overload).

***

Sejak ditemukannya internet dan boomingnya gawai sebagai perangkat komunikasi yang bisa dimiliki hampir setiap orang, terjadi ledakan kuantitas informasi yang kemudian dikenal dengan era keberlimpahan informasi (abundance of information era). Tsunami informasi menerjang keseharian kita sehingga menjadi epidemi baru yang melanda dunia. Di samping permasalahan kualitas informasi (hoax, fake news, misinformasi, disinformasi); kuantitas informasi juga menjadi masalah karena kemampuan kognitif manusia yang belum terlatih untuk memproses sebegitu banyak jumlah informasi yang ada. Sebuah riset di Amerika menunjukkan bahwa rata-rata orang Amerika mengkonsumsi informasi sebesar 34 GB setiap harinya. Seperti halnya obesitas, sumber “makanan” informasi juga berasal dari banyak sumber semisal laporan-laporan, brosur, iklan, streaming video dan audio, email, media sosial, dan sumber online lainnya.

Sebagaimana kemacetan lalu-lintas di banyak kota besar yang menjadi permasalahan serius saat ini karena jumlah kendaraan melebihi kemampu-layanan prasarana jalan yang ada; demikian pula infobesitas. Jumlah informasi yang men-tsunami melebihi kemampuan kognitif kita dalam memprosesnya. Akibat yang terjadi adalah terjadi penyumbatan arus informasi di sana-sini, memperlambat sistem kognitif kita, bahkan menjadikan sistem dan metabolisme fisik terpaksa harus melakukan force-closed atau restart. Yap, infobesitas dalam beberapa kasus berpengaruh juga terhadap fisik, seperti pingsan misalnya.

***

Di samping lambatnya pengambilan keputusan terhadap sebuah hal seperti ilustrasi di awal tulisan ini, infobesitas ini juga ditengarai menyebabkan efek samping seperti kelelahan, produktifitas rendah, kurangnya percaya diri, stress dan bahkan kerugian secara finansial.

Hingga saat ini, seluruh upaya pencarian solusi terhadap masalah infobesitas ini sama seperti terapi terhadap obesitas, yakni diet informasi dan solusi hidup sehat informasi. Anak tangga pertamanya adalah sama seperti upaya penanganan hoax; yakni pause, berhenti sejenak untuk mengendapkan seluruh informasi yang diterima dan tidak bernafsu untuk memberikan reaksi secara berlebihan dan emosional, termasuk menyebarkannya. Dalam konteks informasi dan komunikasi, perilaku ini adalah rumus dasar dari literasi.

Karena menghentikan atau menghambat tsunami informasi adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukan, yang segera dan mendesak untuk dipersiapkan adalah memperkuat tanggul kognitif kita dalam memproses informasi. Bergandengan tangan bahu-membahu membersihkan sampah dari tsunami informasi yang melanda.

Cerdas dan bijaklah memperlakukan informasi.

[acan9]

View All