7 Jenis Penyimpangan Informasi

Pada artikel sebelumnya yang merujuk pada tsunami informasi, abundance of information era, disebutkan bahwa rimba belantara informasi bisa menjadi sangat membingungkan dengan begitu banyaknya apa yang disebut dengan hoaks. Konsumen informasi mempersepsikan hoaks tidaknya sebuah informasi bergantung pada persepsi subjektifnya atas informasi tersebut. Sebuah informasi bernilai hoaks bagi seseorang sementara tidak berlaku bagi orang lainnya. Meskipun hoaks saat ini sudah “disepakati” banyak orang sebagai sebuah penyakit informasi yang meresahkan, ternyata tidak mudah untuk menjawab ketika hoaks tersebut kemudian dibingkai dalam sebuah definisi

Memasuki kotak definisi tentang hoaks, tidak ada kesepakatan universal mengenai definisi hoaks itu sendiri, dalam pengertian yang jelas. Sebagai pengetahuan, hoaks sendiri menjadi popular dalam sebuah film berjudul “The Hoax” pada 1972. Dalam konteks Indonesia, hoaks yang diresmikan sebagai unsur serapan dari kata hoax, didefinisikan dalam KBBI sebagai berita bohong. Namun demikian, survey Masyarakat Telematika Indonesia pada awal 2017 menunjukkan kecenderungan bahwa semua berita yang meragukan sebagai fakta kemudian dimasukkan dalam kotak definisi hoaks. Hal ini didasari pada realitas bahwa sebuah informasi memiliki banyak komponen penyusun. Ada judul, tagline, isi berita, narasi pendukung, dan lain-lain. Tidak mudah kemudian mengetahui secara jelas tingkat kebenaran sebuah berita dengan menelisik kekeliruan informasi tersebut ada pada komponen penyusun yang mana. Kesulitan mendefinisikan hoaks pada sebuah informasi ditunjukkan pada survey yang sama (Mastel awal 2017) yang menunjukkan 43.1% responden mengaku tidak mudah untuk memeriksa tingkat kebenaran sebuah berita, dengan responden yang 62.9% berpendidikan formal Pendidikan tinggi (S1-S3). Survey dailysocial pada 2018 juga menunjukkan kecenderungan yang sama dimana 70% responden merasa sulit dan tidak yakin ketika memeriksa hoaks tidaknya sebuah informasi.

Pada tataran praktisnya, hoax seringkali beriirisan sangat besar dengan apa yang dalam dunia jurnalisme dikenal dengan berita palsu (fake news), karena di dalamnya sama-sama menunjukkan kualitas kebenaran informasi yang rendah. Amol Rajan, media editor BBC News, mengiidentifikasi ada tiga jenis fake news. Blogger Huffington Post, Dr. John Johnson mengidentifikasinya menjadi lima jenis. Kemudian Claire Wardle, peneliti pada First Draft, membaginya dalam tujuh jenis. Identifikasi-identifikasi tersebut ada yang memisahkannya dengan misinformasi dan disinformasi, ada yang menyebutnya bagian dari disinformasi dan misinformasi.

Dari beberapa ragam identifikasi tersebut, ada satu kesamaan yang bisa ditemukan, yakni semua jenis tersebut adalah bentuk dari Penyimpangan Informasi, dalam pengertian ketika sebuah informasi menyimpang dari tujuan informasi sendiri yakni untuk memberikan kejelasan atau kepastian tentang sesuatu hal.

Kotak paradoks definisi mengenai hoax dan variannya ini juga menimbulkan kerepotan baru pada kalangan pemeriksa fakta (fact checker). Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) sebagai pelopor dan dirigen gerakan anti-hoaks menggunakan terminologi yang dikemukakan Claire Wardle dari First Draft. Claire Wardle mengemukakan bahwa ada 7 jenis bentuk yang umum ditemukan sebagai bentuk Penyimpangan Informasi, yakni:

  1. Satire/Parody (Satir/Parodi) à informasi yang disengaja sebagai sebuah lelucon, tanpa didasari dengan maksud untuk mengelabui, menimbulkan bahaya atau menyerang sebuah pihak, melainkan semata-mata sebagai sebuah lelucon.
  1. Misleading Content (Konten Menyesatkan) à bentuk penyimpangan informasi ini timbul akibat penyalahgunaan informasi yang dimaksudkan untuk framing sebuah isu atau pihak tertentu. Informasi di dalamnya bisa informasi yang salah maupun informasi yang benar namun disampaikan dengan narasi untuk menyudutkan pihak tertentu atau mengarahkan konsumen informasi pada isu tertentu.
  1. Imposter Content (Konten Tiruan) à apabila sebuah informasi dengan konten dan sumber yang jelas, dijiplak dan ditiru sebagai informasi baru dengan menghilangkan sumber aslinya, dan menimbulkan persepsi seolah-olah penjiplak adalah sumber aslinya.
  1. Fabricated Content (Konten Palsu) à sebuah informasi yang 100% baru baik dari sisi konten dan sumbernya yang memang sengaja dibuat untuk memanipulasi dan mempengaruhi opini publik, bahkan disengaja untuk membahayakan.
  1. False Connection (Hubungan yang Keliru) à apabila sebuah informasi tidak berhubungan sama sekali antara elemen penyusun informasi tersebut,seperti judul informasi, bentuk visual/meme, caption dan konten ataupun keterhubungan antar berita di dalam informasi tersebut.
  1. False Context (Salah Konteks) à ketika sebuah informasi disampaikan dengan atau tanpa narasi yang melepaskannya dari konteks faktual ketika informasi tersebut dibuat, atau dinarasikan dengan konteks yang berbeda dari konteks yang sebenarnya.
  1. Manipulated Content (Konten Manipulatif) à ketika sebuah informasi disampaikan dengan konten yang sudah dimanipulasi atau diedit dengan tujuan untuk mengelabui, menipu atau memberikan persespi yang salah pada konsumen informasi.

Opinium, aplikasi penguji informasi, juga memutuskan untuk menggunakan terminologi tersebut di dalam aplikasinya untuk “memberi penilaian” sebuah informasi (di bawah fitur Fact Check) sebuah informasi. Hal ini dilakukan setidaknya karena beberapa hal:

  • Identifikasi Claire Wardle ini saat ini adalah yang dinilai komprehensif, dan di saat yang sama tidak terlalu kompleks untuk bisa dimengerti.
  • Identifikasi ini juga digunakan oleh pemeriksa fakta dalam debunking sebuah informasi hoaks, sehingga kesamaan identifikasi bisa memudahkan masyarakat dalam mempersepsikan, tidak hanya hoaks atau tidaknya sebuah informasi, melainkan juga mengerti di komponen mana informasi tersebut disimpulkan sebagai hoaks
  • Sebagai wahana atau alat bagi masyarakat (atau komunitas dalam Opinium, lebih tepatnya) dalam mengasah kemampuan literasi digitalnya dengan melakukan swa-verifikasi terhadap sebuah informasi.
  • Apabila pemeriksa fakta bergabung di dalam Opinium dan memberikan penilaian terhadap sebuah informasi dengan prosedur dan standard pemeriksaan fakta yang kredibel, pengguna lainnya dalam komunitas Opinium bisa mempelajarinya, belajar melakukannya sendiri, dan diharapkan bisa sedikit mengurangi beban pemeriksa fakta.
  • Identifikasi ini diaplikasikan dan diterima oleh praktisi jurnalisme maupun mereka yang concern terhadap dunia informasi, sehingga dengan mengadopsinya dalam Opinium akan membuat kualitas pengujian informasi di dalamnya lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Penambahan identifikasi terminologi ini sudah diakomodasi pada update Opinium v2.0 yang bisa diunduh di PlayStore.

Bersama mari kita belajar mengenali kualitas sebuah informasi dengan menyenangkan dan menenangkan.

View All